Menyusuri Keindahan Taman Tanggul Kali Kota Magelang

Kali ini MataLidah mengajak Anda menyusuri keindahan Taman Tanggul Kali Kota yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani, Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. Jika Anda dari arah Semarang, taman ini berada di sisi kanan jalan sebelum pertigaan Terminal Kebonpolo Magelang. Letak Taman Tanggul Kali Kota terbilang sangat strategis dan mudah dijangkau, baik dari arah Yogyakarta maupun dari arah Semarang.

Sesuai namanya, taman ini memang dibangun di tanggul saluran irigasi Kali Kota dan merupakan bagian dari saluran Kali Manggis yang mengalir dari wilayah KabupatenTemanggung ke Kota Magelang. Saluran Kali Kota sendiri dibangun sekitar tahun 1883 oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan masih berfungsi baik sampai saat ini. Saluran irigasi Kali Kota memiliki rancangan arsitektur yang unik, dimana dibangun lebih tinggi dari pemukiman dan jalan, dengan dua flyover atau plengkung yang ikonik.

Taman Tanggul Kali Kota menjadi salah satu taman kota dan ruang terbuka hijau di Kota Magelang, sekaligus menjadi tempat rekreasi warga. Taman ini memadukan aneka tanaman berbagai ukuran yang ditata rapi dan dirawat secara periodik, sehingga memunculkan kesan asri dan sejuk. Taman ini juga dilengkapi jogging track di tepi saluran Kali Kota sebagai sarana olah raga ringan seperti jalan santai atau lari pagi. Dari tanggul setinggi hampir 4 meter ini, Anda dapat menikmati pemandangan Kota Magelang dan gunung-gunung di sekitarnya. Menarik untuk dikunjungi, terutama saat pagi atau sore hari. Saksikan keindahannya dalam video berikut ini.

Dua Sisi Keindahan Danau Rawa Pening

Beberapa waktu yang lalu, sebelum pandemi COVID-19 merebak di tanah air, MataLidah mengunjungi Danau Rawa Pening, sebuah danau alami terluas di Jawa Tengah, yang berlokasi di Jl. Lingkar Selatan Kilometer 3, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Meskipun secara geografis, danau ini berada di wilayah 4 Kecamatan, yaitu Ambarawa, Banyubiru, Bawen, dan Tuntang.

Danau Rawa Pening merupakan danau yang terbentuk di cekungan terendah Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Danau ini menjadi hulu Sungai Tuntang yang mengalir di wilayah Kecamatan Tuntang. Dan karena tidak terlalu dalam, maka masyarakat sekitar menyebutnya sebagai rawa, bukan danau atau telaga. Pendangkalan Rawa Pening, makin parah akibat merajalelanya gulma eceng gondok yang tumbuh subur secara masif di permukaan danau.

Menurut legenda atau cerita rakyat, Danau Rawa Pening terbentuk dari air yang memancar dari lubang bekas lidi yang ditancapkan oleh bocah jelmaan ular besar Baru Klinthing yang mati dibunuh oleh warga saat berburu di kawasan Gunung Telomoyo. Air tersebut terus memancar hingga menenggelamkan desa beserta warganya. Hanya ada seorang nenek yang selamat karena mengikuti perintah si bocah untuk naik lesung dan mengayuhnya dengan centhong. Legenda tersebut diabadikan dalam bentuk relief di salah satu sudut objek wisata Bukit Cinta.

Selain menjadi sumber air dan tempat budidaya perikanan, Danau Rawa Pening juga menjadi destinasi wisata dengan view yang indah, terutama di saat pagi dan sore hari. Keindahan Rawa Pening makin memikat ketika dinikmati dari dua sisi yang berbeda, yaitu kawasan wisata Bukit Cinta dan kawasan wisata Eling Bening. Keindahannya dapat Anda saksikan dalam video berikut ini.