Dua Sisi Keindahan Danau Rawa Pening

Beberapa waktu yang lalu, sebelum pandemi COVID-19 merebak di tanah air, MataLidah mengunjungi Danau Rawa Pening, sebuah danau alami terluas di Jawa Tengah, yang berlokasi di Jl. Lingkar Selatan Kilometer 3, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Meskipun secara geografis, danau ini berada di wilayah 4 Kecamatan, yaitu Ambarawa, Banyubiru, Bawen, dan Tuntang.

Danau Rawa Pening merupakan danau yang terbentuk di cekungan terendah Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Danau ini menjadi hulu Sungai Tuntang yang mengalir di wilayah Kecamatan Tuntang. Dan karena tidak terlalu dalam, maka masyarakat sekitar menyebutnya sebagai rawa, bukan danau atau telaga. Pendangkalan Rawa Pening, makin parah akibat merajalelanya gulma eceng gondok yang tumbuh subur secara masif di permukaan danau.

Menurut legenda atau cerita rakyat, Danau Rawa Pening terbentuk dari air yang memancar dari lubang bekas lidi yang ditancapkan oleh bocah jelmaan ular besar Baru Klinthing yang mati dibunuh oleh warga saat berburu di kawasan Gunung Telomoyo. Air tersebut terus memancar hingga menenggelamkan desa beserta warganya. Hanya ada seorang nenek yang selamat karena mengikuti perintah si bocah untuk naik lesung dan mengayuhnya dengan centhong. Legenda tersebut diabadikan dalam bentuk relief di salah satu sudut objek wisata Bukit Cinta.

Selain menjadi sumber air dan tempat budidaya perikanan, Danau Rawa Pening juga menjadi destinasi wisata dengan view yang indah, terutama di saat pagi dan sore hari. Keindahan Rawa Pening makin memikat ketika dinikmati dari dua sisi yang berbeda, yaitu kawasan wisata Bukit Cinta dan kawasan wisata Eling Bening. Keindahannya dapat Anda saksikan dalam video berikut ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.