Spot Foto Sawah Kajoran | de Ubud van Magelang

Wisata Magelang tidak hanya terbatas pada Candi Borobudur dan Taman Kyai Langgeng. Wilayah Kota dan Kabupaten Magelang memiliki ratusan destinasi wisata lainnya, yang tidak kalah menarik. Bahkan tiap bulan, muncul destinasi-destinasi wisata baru yang layak untuk dikunjungi wisatawan. Salah satunya adalah Spot Foto Sawah Kajoran yang berlokasi di Desa Ngedrosari, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Berjarak hanya sekitar 10 menit dari jalan raya Magelang – Purworejo.

Spot Foto Sawah Kajoran merupakan areal persawahan milik warga dengan bentuk terasering yang unik, mengikuti kontur tanah yang berbukit. Spot Foto Sawah Kajoran makin indah dengan hadirnya latar Gunung Sumbing di kejauhan. Keindahannya mirip dengan persawahan di kawasan Ubud, Bali. Tidak heran jika beberapa orang menyebutnya sebagai de Ubud van Magelang.

Jika hari cerah, pemandangan sunrise di Spot Foto Sawah Kajoran terlihat sangat fenomenal dan menakjubkan. Setelah sunrise berlalu, viewnya tidak kalah menarik, Anda akan disuguhi bentang landscap persawahan hijau yang berselimut kabut tipis, diiringi langkah para petani yang bergegas memulai aktivitas. Pastikan Anda membawa kamera saat mengunjungi spot ini, agar tidak ketinggalan setiap momen yang berharga.

Spot Foto Sawah Kajoran buka 24 jam dan Anda tidak perlu membayar sepeser pun untuk mengunjunginya. Masih ditambah sambutan warga desa yang ramah dan bersahaja. Sungguh destinasi yang menyejukkan mata dan menyegarkan pikiran. Terutama bagi Anda yang lama tinggal di hiruk pikuk perkotaan. Simak keindahannya di video berikut ini.

Napak Tilas Jembatan Kereta Api Kranggan Temanggung

Jembatan Kereta Api Kranggan yang melintasi Kali Progo, merupakan bagian dari bekas jalur kereta api Parakan – Secang yang dibangun tahun 1907 oleh perusahaan kereta api milik Hindia Belanda. Dahulu, jalur ini digunakan untuk mengangkut komoditi tembakau dari kawasan Temanggung ke Jogja dan Semarang.

Pada masa kemerdekaan, jalur kereta api ini aktif digunakan untuk angkutan penumpang, tembakau, dan komoditi lainnya, sampai tahun 1973. Setelah periode tersebut, jalur ini tidak lagi digunakan, sama halnya dengan jalur kereta api Semarang – Jogja, karena dianggap tidak lagi ekonomis. Akhirnya semua rel, stasiun dan fasilitas lainnya mangkrak, nyaris tidak terpelihara. Bahkan di beberapa titik sudah berubah jadi pemukiman warga.

Jembatan Kereta Api Kranggan berlokasi tidak jauh dari Jembatan Kranggan yang merupakan bagian dari jalan raya Magelang – Temanggung, sehingga sangat strategis dan mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi atau umum. Berada satu kawasan dengan Taman Kali Progo yang rindang dan sejuk.

Jembatan Kereta Api Kranggan memiliki view sangat indah karena dikelilingi area persawahan dan pertanian warga yang luas dengan aneka tanaman berselang-seling mengikuti kontur tanah yang berbukit. Di arah barat jembatan, berdiri gagah Gunung Sumbing dan Sindoro yang membuat pemandangan alam makin memukau.

Di era new normal, Jembatan Kereta Api Kranggan, menjadi salah satu destinasi favorit para pecinta gowes di wilayah Magelang dan Temanggung. Untuk memasuki kawasan ini, sama sekali tidak dipungut biaya, kecuali jika Anda memasuki area bermain anak di tepi Sungai Progo. Destinasi ini juga buka 24 jam, dengan waktu kunjung terbaik pada pagi dan sore hari, agar terhindar dari terik matahari.

Pesona Alun-Alun Kota Magelang | Medio 2020

Kali ini MataLidah mengajak Anda menikmati pesona Alun-Alun Kota Magelang, salah satu town square atau pusat kota terindah di Indonesia. Tidak berlebihan disebut demikian karena jika dibandingkan dengan alun-alun di daerah lain yang rata-rata hanya bisa menikmati pemandangan kota saja, Alun-Alun Kota Magelang memiliki view yang sangat keren berkat letaknya yang dikelilingi perbukitan dan gunung-gunung besar di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di sisi barat Anda dapat menyaksikan panorama Gunung Sumbing dan di sebelah timur, Anda bisa memandangi keindahan Gunung Merapi dan Merbabu.

Mengutip laman wikipedia, Alun-Alun Kota Magelang dibangun sejak abad ke-18 pada saat Magelang dikuasai kolonial Inggris, oleh Bupati pertama Magelang, Mas Ngabehi Danukromo, lengkap dengan bangunan tempat tinggal Bupati serta sebuah masjid. Setelah Inggris ditaklukkan oleh Belanda, Magelang dijadikan pusat lalu lintas perekonomian dan kota militer. Pemerintah kolonial Belanda terus melengkapi sarana dan prasarana perkotaan di sekitar alun-alun, termasuk menara air minum yang dibangun pada tahun 1918 dan rumah ibadah berbagai agama seperti klenteng dan gereja.

Pada perkembangannya, alun-alun dijadikan sebagai pusat Kota Magelang karena letaknya yang sangat strategis dan mudah dijangkau dengan moda transportasi pribadi maupun umum. Di sekeliling alun-alun berdiri beberapa pusat perbelanjaan seperti Matahari, Gardena, Trio Plaza dan sebuah mall yang akan dibangun di lahan eks Magelang dan Tidar Theatre. Alun-alun juga sangat dekat dengan kawasan Pecinan di Jalan Pemuda, salah satu kawasan pusat perdagangan di Kota Magelang, yang sudah ada sejak zaman pemerintah Kolonial Belanda.

Alun-Alun Kota Magelang sebagai landmark utama Kota Magelang terus berbenah dari tahun ke tahun. Di pertengahan tahun 2020 ini, saat pandemi COVID-19 alun-alun masih tampil keren, meski terkesan sangat sepi. Taman dan dancing fountain di sisi barat masih terpelihara apik. Patung Diponegoro di sisi timur juga masih berdiri gagah dan terawat. Rumput alun-alun juga tampak makin menghijau, menambah keasrian Alun-Alun Kota Magelang. Yang paling terimbas pandemi adalah pusat kuliner Tuin Van Java di sisi utara alun-alun.

Alun-Alun Kota Magelang terbuka untuk umum selama 24 jam dan gratis. Anda hanya dikenakan retribusi jika parkir kendaraan di sekitar alun-alun. Penasaran dengan keindahan Alun-Alun Kota Magelang? Saksikan video youtube berikut ini.